ROHIS SMAN 78ROHANI ISLAM · SMAN 78
Kajian

Etika Bermedia Sosial di Era Digital dalam Tinjauan Surah An-Nisa Ayat 83

06 Oktober 2026

Etika Bermedia Sosial di Era Digital dalam Tinjauan Surah An-Nisa Ayat 83
Media sosial adalah ruang publik. Di dalamnya orang menulis, menilai, membela, menyerang, mengabarkan, dan menyebarkan informasi. Karena itu, Islam memberi tuntunan yang jelas. Setiap kabar tidak boleh langsung disebarkan. Setiap informasi harus ditimbang. Setiap ucapan harus diarahkan kepada maslahat.

Allah berfirman:

وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا

Artinya: Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka menyebarluaskannya. Padahal, seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ululamri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya dapat mengetahuinya secara resmi dari mereka. Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah engkau mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (QS An-Nisa: 83).

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan bermedia sosial. Banyak orang tergesa-gesa membagikan kabar hanya karena kabar itu menarik, mengejutkan, atau menguatkan prasangka. Padahal, tidak semua yang benar harus segera disebar. Tidak semua yang viral membawa manfaat. Tidak semua yang banyak dibicarakan layak diperbesar.

Al-Qur’an mengajarkan adab tabayyun, kehati-hatian, dan rujuk kepada pihak yang memiliki otoritas. Dalam urusan publik, informasi harus dikembalikan kepada orang yang berilmu, pihak yang berwenang, dan mereka yang mampu membaca masalah secara jernih. Ini penting agar masyarakat tidak dikuasai kepanikan, fitnah, dan provokasi.

Rasulullah saw juga mengingatkan tentang masa ketika kebenaran dan kebohongan dipertukarkan.
Beliau bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَال الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Artinya: Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Pada masa itu pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dianggap berkhianat, dan ruwaibidhah berbicara. Ditanyakan, apakah ruwaibidhah itu? Beliau menjawab, orang rendah kualitasnya yang berbicara tentang urusan publik. (HR Ibnu Majah)
Hadits ini memberi peringatan keras. Kerusakan ruang publik bermula ketika orang tidak lagi menilai informasi dari kebenaran, ilmu, dan amanah. Orang lebih mudah percaya kepada suara yang keras daripada suara yang benar. Orang lebih mudah mengikuti sensasi daripada penjelasan yang bertanggung jawab. Di sinilah media sosial bisa menjadi ruang fitnah jika tidak dijaga dengan akhlak.

Namun, media sosial tidak harus menjadi ruang gaduh. Ia bisa menjadi ladang kebaikan. Umat Islam perlu aktif mengisinya dengan ilmu, nasihat, doa, klarifikasi yang santun, kabar yang bermanfaat, dan ajakan kepada kemaslahatan. Diam dari keburukan itu baik. Tetapi mengisi ruang publik dengan kebaikan jauh lebih kuat dampaknya.

Etika bermedia sosial berarti menahan diri sebelum membagikan. Bertanya sebelum menuduh. Memeriksa sebelum mempercayai. Menghormati sebelum mengkritik. Mengutamakan maslahat sebelum mengejar perhatian. Dalam tradisi Islam, lisan dan tulisan sama-sama dipertanggungjawabkan. Jari yang menekan tombol kirim juga bagian dari amanah.

Media sosial hari ini membutuhkan akhlak. Ia tidak cukup diisi dengan kecerdasan, keberanian, dan kecepatan. Ia harus dijaga dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab. QS An-Nisa ayat 83 mengajarkan agar kabar penting tidak disebarkan secara serampangan. Hadits tentang ruwaibidhah mengingatkan agar urusan publik tidak dikuasai oleh suara yang miskin ilmu dan miskin amanah.

Karena itu, mari aktif bermedia sosial untuk kebaikan. Jangan biarkan ruang digital hanya dipenuhi kemarahan, fitnah, dan kegaduhan. Penuhi media sosial dengan nasihat, keteduhan, ilmu, persaudaraan, dan kemaslahatan. Setiap tulisan bisa menjadi amal. Setiap unggahan bisa menjadi saksi. Setiap kebaikan yang disebarkan dapat menjadi jalan keberkahan.

Hapus konten?

Apakah Anda yakin ingin menghapus konten ini?

Tambah Tautan

Tambah Tabel

Pratinjau

Perubahan belum disimpan.